Senin, 08 November 2010

FAKTOR DAN MITOS PADA KESEHATAN IBU HAMIL




Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Kesehatan Ibu saat ini merupakan masalah sosial karena banyak factor kesehatan dan mitos-mitos yang mempengaruhi kesehatan Ibu.
         Menjadi seorang Ibu di Indonesia sangatlah mengenaskan, tidak hanya dari segi sosial, budaya, ekonomi serta pendidikan tetapi juga dari segi kesehatan.
a.       Faktor sosial, posisi perempuan masih mengalami subordinasi di masyarakat. Ketidaksetaraan jender masih menjadi isu sentral di negara kita yang mengakibatkan terampasnya hak-hak perempuan. Padahal perempuan-perempuan inilah yang nantinya akan menjadi calon Ibu yang akan menjadi penentu kualitas generasi mendatang.
b.      Faktor budaya adalah masih kuatnya mitos-mitos budaya berkaitan dengan kesehatan Ibu dan pemahaman ajaran agama. Keyakinan terhadap mitos dapat menimbulkan gejala kecemasan berupa ketakutan apabila belum sepenuhnya melaksanakan anjuran mitos tersebut. Banyak dari kaum ibu yang meyakini kebenaran mitos tersebut dan melaksanakannya akan tetapi mereka tidak mengetahui sebab dari suatu mitos tersebut, mereka tidak bersikap kritis dengan bertanya pada orang tua karena apabila bertanya dianggap membantah dan tidak hormat pada orang tua. Meski saat ini beberapa dari mitos kesehatan ibu yang sebelumnya tidak dapat dijawab secara rasional sudah dapat dijelaskan secara ilmiah, namun banyak masyarakat yang masih memegang teguh keyakinan terhadap mitos tersebut padahal beberapa dari mitos tersebut justru dapat merugikan bagi kesehatan ibu.



Misalnya :
o   Dilarang makan-makanan tertentu setelah melahirkan dengan alasan akan mengakibatkan vagina berbau amis atau becek. Padahal makanan tersebut jika dipandang dari segi kesehatan sangatlah dibutuhkan tubuh untuk mempercepat kondisi kesehatan Ibu sesudah melahirkan..
o   Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, Ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
o   Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
o   Daerah Subang, Ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan..
o   Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan
o   Di berbagai suku juga dipercaya bahwa pada saat seorang wanita dinyatakan positif hamil, maka ia tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan tertentu untuk menjaga perkembangan dan kelahiran yang sehat.
o   Banyak yang percaya bahwa pada awal kehamilan, makanan yang asam atau memiliki bagian yang tajam (ikan lele, ikan pari yang berduri, dan nanas) harus dihindari karena makanan tersebut berhubungan dengan komplikasi pada kehamilan (seperti aborsi, pendarahan).
        Mitos-mitos yang berkembang tersebut hanya dapat diberantas dengan pemberian konseling, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat Disarankan untuk bidan agar memberikan penyuluhan pada para Ibu, suami dan masyarakat umum mengenai nutrisi yang diperlukan terutama saat hamil agar tidak memantang makanan yang justru baik bagi kesehatan Ibu. Bagi Ibu hamil diharapkan lebih kritis apabila mendapat informasi mengenai mitos kehamilan agar tidak merugikan kesehatan. Facta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.
Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan
kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.
c.       Faktor ekonomi, jelas masalah kemiskinan menjadi faktor dominan dalam kesehatan Ibu. Kemiskinan yang menghinggapi keluarga-keluarga di Indonesia memaksa para Ibu bekerja ganda. Selain bekerja di dalam rumah tangga mereka juga harus nyambi untuk mecukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Beratnya beban ganda, baik domestik (di dalam rumah) ataupun publik (di luar rumah) juga merupakan penyumbang angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Kemiskinan harus dibayar mahal, sebab pada kondisi miskin, perempuan terjerat hidup dengan gizi rendah dan akhirnya menderita anemia dan cenderung melahirkan anak dengan berat lahir rendah (BBLR) sehingga dalam proses tumbuh kembang selanjutnya mengalami hambatan. Kemiskinan sangat berpengaruh menentukan tingkat akses dan pelayanan kesehatan bagi Ibu, sehingga disinilah diperlukan kebijakan pemerintah yang pro keluarga miskin segera diimplementasikan khususnya untuk kesehatan Ibu.











DAFTAR PUSTAKA


Prawirohardjo Sarwono, Ilmu kebidanan, P.T. BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO, JAKARTA, 2009





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar